JAKARTA, AsSAJIDIN.Com – Konsekuensi krisis diplomatik antara Qatar dan sejumlah negara Teluk tak hanya berimbas pada kegiatan penduduk setempat, tapi juga mobilitas warga Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Qatar Muhamad Basri Sidehabi mengatakan mobilitas WNI terkena dampak karena akses perhubungan ditutup oleh sejumlah negara Teluk yang memutus hubungan dengan Qatar.

“Mobilitas warga di Qatar akan sedikit banyak terdampak, antara lain karena maskapai Persatuan Emirat Arab mengumumkan akan menghentikan layanan ke Qatar, serta Qatar Airways telah menghentikan layanan penerbangan ke Saudi Arabia dan Persatuan Emirat Arab,”

ujar Basri sebagaimana tertera dalam transkrip jumpa pers, belum lama ini.

Tak hanya menutup akses perhubungan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengusir seluruh warga Qatar dari negaranya. Di sisi lain, Doha tidak melakukan hal yang sama untuk membalas.

Namun, jika diperlukan, KBRI Doha akan memfasilitasi WNI yang bekerja pada warga negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Yaman di Qatar.

Meski hubungan diplomatik Qatar dan negara tetangganya terputus, Basri memastikan situasi di negara tersebut masih kondusif.

Kendati demikian, Basri tetap mengimbau WNI yang berada di Qatar untuk waspada. Basri pun sudah mempersiapkan langkah antisipasi mengingat jumlah WNI di Qatar yang cukup banyak, mencapai 43 ribu jiwa.

Sementara keluarga di Indonesia khawatir akibat krisis diplomatik Qatar dan negara di Arab. “Bagaimana nasib adik saya, yang bekerja di Qatar. Apa mereka dipaksa keluar Qatar, atau bagaimana,” ujar Titin, salah satu keluarga di Indonesia yang was-was terhadap situasai di Qatar.

Lebih lanjut, Basri tak menjabarkan lebih lanjut mengenai langkah antisipasi tersebut. Ia hanya mengatakan,

“Dubes adalah orang terakhir yang akan meninggalkan Qatar.”
Menanggapi situasi di kawasan, Basri kembali menekankan posisi Indonesia yang berharap semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog untuk menyelesaikan masalah.

“Indonesia menekankan kembali semua negara untuk menghormati prinsip hubungan internasional, seperti saling menghormati kedaulatan masing masing negara dan tidak ikut campur urusan dalam negeri negara lain,” tutur Basri.

Kisruh ini bermula ketika Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutus hubungan dengan Qatar karena Doha disebut mendukung kelompok teroris. Langkah ini kemudian diikuti oleh Yaman, Libya, dan Maladewa.

Langkah ini membuat permasalahan soal dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin menjadi semakin keruh. Doha bahkan kian dituding mendukung agenda Iran yang merupakan rival utama kawasan.(*)

Comments

comments

SHARE