Siti Fadilah mantan Menteri Kesehatan

design-hut-ri-online-745145

JAKARTA, AsSAJIDIN.COm — Terdakwa kasus dugaan korupsi alat kesehatan Siti Fadilah Supari tidak kuasa menahan air matanya saat membacakan nota pembelaan atau pledoi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta kemarin. Menteri Kesehatan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut juga meminta maaf saat membacakan nota pembelaan di depan meja persidangan.
“Mohon maaf apabila nota pembelaan ini saya ungkapkan dalam bahasa saya, bahasa orang awam yang merasa terzalimi,” kata Siti Fadilah dikutip dari tribunnews.com.
Di awal pledoi, Siti Fadilah mengungkapkan kerinduannya bisa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan bersama keluarganya. Siti Fadilah pun tak kuasa menahan tangisnya.
Air mata dokter ahli jantung itu jatuh membacakan pledoi berjudul ‘To See The Unseen, Setitik Harapan Menggapai Keadilan’. “Sebagai seorang ibu, juga sebagai nenek sekaligus muslimah saya sangat merindukan bisa berpuasa Ramadan, tarawih bersama dengan anak cucu di rumah, apalagi di penghujung usia saya seperti ini,” kata dia.
Walau demikian, Siti mengaku menjalaninya secara ikhlas. Kata Siti, sejak awal pemeriksaan dirinya di Bareskrim Polri maupun KPK, dirinya tidak pernah melakukan sebagaimana dakwaan maupun tuntutan jaksa penuntut umum.
Siti didakwa melakukan dua perbuatan pidana berbeda. Perbuatan pidana pertama Siti adalah menerbitkan surat rekomendasi penunjukan langsung. Siti disebut meminta kuasa pengguna anggaran dan pejabat pembuat komitmen Kemenkes, Mulya Hasjmy, memilih PT Indofarma (Persero) Tbk dan sebagai penyedia buffer stock.
Karena penunjukan langsung itu, Indofarma memperoleh keuntungan sebesar Rp1,5 miliar dan merugikan negara sekitar Rp6,1 miliar. Selain penunjukan langsung, Siti juga didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp1,85 miliar dari PT Graha Ismaya.
Uang tersebut diberikan agar Siti menyetujui revisi anggaran pengadaan Alkes I dan suplier Alkes I. Siti menerima 20 lembar Mandiri Traveller Cheque senilai Rp500 juta dan cek perjalanan serupa senilai Rp1,37 miliar.

Siti Fadilah sebelumnya dituntut pidana penjara 6 tahun ditambah denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan. Siti juga dituntut pidana tambahan yakni membayar uang pengganti sebesar Rp1,9 miliar subsider satu tahun kurungan.
Siti Fadilah mengungkapkan sejak awal kasus yang menjerat dirinya adalah rekayasa. Siti Fadilah mengklaim bahwa rekayasa terhadap dirinya juga diakui oleh jaksa-jaksa yang menyidangkan terdakwa Mulya Hasjmy.
Siti mengisahkan ketika dia diundang sebagai saksi di persidangan Mulya Hasjmy. Ketika menunggu persidangan, Siti Fadilah dipersilakan duduk di ruangan para jaksa karena Siti saat itu adalah pejabat negara yang menjabat anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
“Banyak diantara mereka meminta foto bersama,” kata Siti Fadilah.
Kemudian, dua jaksa muda ikut bergabung. Setelah kedua orang itu bertegur sapa dengan jaksa-jaksa yang lain, kedua jaksa muda itu kemudian mendekati Siti Fadilah. Mereka meminta foto bersama.
“Salah satunya berbisik ‘Ibu saya tahu siapa Ibu, saya fans Ibu, maaf ibu sedang didzolimi, tenang ya bu. Ini ada dokumen yang mungkin ibu perlukan, ” ungkap Siti Fadilah.
Gulungan kertas tersebut ternyata Verbal Resmi dari surat rekomendasi PL No.15912/Menkes/2005. Dokumen tersebut sebelumnya dicari dan ditanya penyidik Bareskrim Mabes Polri.(*)

Comments

comments

Lazada Indonesia
SHARE