Ust. Miftahudin.SQ

Oleh : Miftahudin, SQ

Pengasuh Rumah Tahfidz Jalaaul Qulub Palembang

SUDAH menjadi watak manusia apabila ia menemukan sebuah kebaikan, maka ia lupa dengan sisi lain dari kebaikan tersebut yang mungkin mengiringinya. Padahal dalam setiap hal yang terjadi, ada hal lain yang mengiringinya. Begitupun dengan bulan Ramadhan. Selama ini dan seterusnya, orang kalau ditanyakan tentang pengertian Ramadhan, tentu jawabnya klasik. Biasanya ia akan menjawab: “ Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan, bulan dimana setiap amalan ibadah dilipatgandakan pahalanya, amalan sunnah di anggap seperti amalan wajib dan jawaban lainnya.

Ramadhan akan menjadi bulan berkah, bulan ampunan, bulan pahala, tentunya bagi siapa saja yang mengisi ramadhan dengan amaliah-amaliah mulia selain puasa wajib disiang hari seperti tadarrus, I’tikaf, shodaqah, memperbanyak istighfar, shalawat, silaturrahim dan amaliah lain.
Orang-orang yang menghadapi ramadhan dengan amaliah mulia itulah yang dia menemukan ramadhan sebagai bulan ampunan, bulan keberkahan dan bulan dilipatgandakannya pahala. Mereka merasa bahagia dengan datangnya Ramadhan, karena mereka tahu apa yang akan dilakukan dan mereka pun tahu apa yang akan didapatkan sebagai balasan dari Alloh SWT.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mendapati ramadhan biasa saja, seolah tidak ada istimewanya ramadhan di mata mereka. Sehingga bulan ramadahan mereka tenang tanpa takut dosa tidak puasa, bahkan tidak puasanya ia pamerkan dihadapan orang banyak. Jangankan untuk tadarrus, I’tikaf, menuju ke masjid untuk shalat tarawih saja tidak dilakukan.
Inilah sisi lain dari ramadhan. Disatu sisi ramadhan adalah bulan penuh dengan ampunan, bagi yang banyak beristighfar minta ampun. Disatu sisi ramadhan adlah bulan penuh keberkahan bagi siapa saja yang mengisi ramadhan dengan ibadah-ibadah baik fardlu maupun sunnah, disatu sisi ramadhan adlah bulan penuh dengan pahala bagi siapa saja yang mengajar pahala siang malam disela-sela kesibukan duanianya. Namun di satu sisi ramadhan adalah bulan ancaman. Ya bulan Ancaman.

Jangan Terlena

Mari kita simak hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA. Ia bercerita bahwa Rasululloh naik mimbar lalu ia membaca “Amiin… Amiin… Amiin” . para ahabat bertanya: “Wahai Rasulalloh, mengapa engkau berkata demikian?” kemudian beliau bersabda: “Baru saja Jibril berkata kepadaku, “Alloh melaknat seseorang hamba yang melewati ramadhan ( sampai ramadhan berlalu) dan dosanya belum diampuni,” maka ku katakan .”amiin” kemudian jibril berkata lagi: Alloh melaknat seseorang hamba yang kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk sorga ( karena tidak berbakti kepadanya), maka aku berkata amiin,. Dan kemudian jibril berkata, “ Alloh melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat kepadaku ketika disebut namaku,” maka aku berkata : “amiin”.
Perhatikan Penggalan pertama hadits diatas. Jibril mendoakan agar Alloh SWT melaknat orang yang masuk ada bulan ramadhan sampai ramadhan meninggalkannya namun ia tidak mendapatkan ampuna Alloh atas dosa-dosanya. Nabi mengaminkan doa malaikat jibril ini.
Doa malaikat jibril ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi setiap orang bahwa jangan terlena dengan segala “bonus-bonus” dari ramadhan. Kalau kita tidak memanfaatkan bonus ramadhan bukan tidak mungkin doa malaikat jibril yang diaminkan oleh Nabi Muhammad SAW akan menimpa diri kita. Betapa meruginya, betapa malangnya kita apabila selesai ramadhan ternyata diri ini masih bergelimang dosa tanpa ampunan dari Alloh SWT.
Hadits lain yang senada dengan hadits diatas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi : bahwasanya rasululloh SAWbersabda : “ Celakalah seseorang, yaitu seseorang yang memasuki ramadhan, lalu dia lalui hari-harinnya di bulan ramadhan sampai ramadhan berpisah darinya dan dosanya belum diampuni oleh Alloh SWT. ( HR. Tirmidzi no 3468)
Memang benar ramadhan bulan penuh ampunan dan keberkahan serta bonus pahala, namun jika kita tidak beramal maka tetap nilainya NOL. Ramadhan jika tidak dimanfaatkan untuk beramal, meninggalkan kejahatan, perbuatan dosa, maksiat maka ramadhan akan menjadi petaka pada hari kiamat. Ramadahan tidak akan menjadi pembela di hari kiamat karena kita pun tidak membelanya ketika ia datang di dunia. Mari jangan jadikan Ramadhan sebagai petaka bagi diri kita. (*)

Comments

comments

Lazada Indonesia
SHARE