Foto: Dream.co --Suasana berbuka puasa dengan menu Nasi Liwet.

AsSAJIDIN.Com — Satu lagi cerita pengalaman puasa di negeri orang. Kali ini dari Beirut, Lebanon. Berpuasa hampir 16 jam di tengah musim panas, sambil mengurus dua anak dan mendampingi suami bekerja di kota `Parisnya Timur Tengah` itu sempat membuat Tutut Wulansari gusar.

” Sempat terbersit, kuat ngga ya puasa di musim panas. Ternyata oh ternyata,” ujar wanita yang karib disapa Wulan ini dikutip dari Dream.co.id.

Ibu muda yang juga mantan bankir ini mengakui, suhu terik di Beirut menjadi cobaan tersendiri saat menjalani puasa.

” Pernah batal dua hari, itu karena sakit kepala akibat dehidrasi,” ujar wanita yang baru pertamakali menjalani berpuasa di negara berjuluk `Switzerland From The East` ini.

Ditambah lagi, waktu berpuasa di Beirut lebih panjang dari Jakarta. Sekitar 15-16 jam. Artinya, bila pulang kantor sekitar pukul empat sore waktu setempat, maka harus menunggu 3-4 jam lagi untuk berbuka. Nah untuk menu berbuka, rasa kangen Tanah Air lebih terobati. Apalagi saat buka bersama di kantor KBRI Beirut.

” Ada es buah, biji salak, kolak, gorengan. Bahkan kemarin kita juga liwetan loh seperti yang sedang hits di Indonesia. Daun pisangnya dibawa langsung Ibu Dubes dari Indonesia, karena disini ngga ada alias langka,” beber Wulan.

Tak cuma itu, menu Indonesia juga kerap hadir di tengah buka puasa bersama di kantor KBRI Beirut. Ada Soto Betawi, Ayam Bumbu Rujak, Gulai Daging lengkap dengan sambal dan kerupuk Indonesia. Tapi, lanjut Wulan, tak jarang juga buka puasa dengan menyantap masakan-masakan khas Timur Tengah yang tidak pedas. Dengan cita rasa yang lebih asam dan gurih. Menemukan masakan halal jelas tak sulit di sana.

Aktivitas Ramadan di Beirut pun lumayan padat. Dari KBRI Beirut kerap mengadakan beberapa kegiatan. Seperti buka puasa bersama dan tarawih setiap hari Jumat. Juga ada kegiatan Tarawih keliling ke masjid-masjid setiap hari Selasa.

KBRI Beirut juga menggelar buka bersama masyarakat Indonesia, mahasiswa, serta anggota TNI yang bertugas di UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon) atau pasukan PBB penjaga perdamaian di Beirut.

Serunya lagi, buka puasa bersama dilakukan di atas kapal KRI Bung Tomo 357 yang sedang bersandar di Pelabuhan Beirut. ” Kalau untuk buka bersama, KBRI rutin mengundang mahasiswa dan tentara,” tambahnya.
Menurut Wulan, Lebanon termasuk negara yang terbuka. Komunitas di Lebanon bukan mayoritas muslim. Jumlah komunitas Islam dan Kristen berbanding hampir sama. Biasanya, komunitas-komunitas itu bermukim dengan kelompoknya masing-masing.

” Ada Syiah, Sunni, Druze dan beberapa aliran lainnya. Ada juga Kristen, Katolik Roma, Ortodok, Maronite, Koptik dan lain-lain,” jelasnya.

Puasa di Lebanon maupun Jakarta, memang memiliki tantangan dan cobaan sendiri yang semoga bisa menjadi ladang pahala buat yang menjalaninya. Tapi bagi Wulan, ada tips tersendiri bagi yang menjalani puasa di suhu panas seperti Lebanon ini.

” Jikalau kita berpuasa di musim panas harus berhemat tenaga supaya stamina prima. Kurangi aktivitas di luar rumah karena panas,” tutup wanita lulusan Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional `Veteran` Yogyakarta ini. (*)

Comments

comments

SHARE