design-hut-ri-online-745145

AsSAJIDIN.COm — Kementerian Kesehatan mulai mengkampanyekan program imunisasi measles rubella atau MR yang dilaksanakan pada Agustus-September 2017. Program imunisasi measles rubella akan diberikan pada anak-anak usia sembilan bulan sampai 15 tahun.

Untuk tahap pertama, ditargetkan 34,9 juta anak-anak di Pulau Jawa akan disuntik vaksin. Sedangkan 31 juta anak-anak lain di luar Jawa akan divaksin pada Agustus-September 2018.

“Imunisasi ini gratis dan wajib tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan M. Subuh dikutip dari tempo.co.

Vaksin measles rubella diberikan untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Ini merupakan penyakit infeksi yang menular melalui saluran pernapasan yang disebabkan virus. Campak dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti diare, radang paru-paru, radang otak, kebutaan, bahkan kematian.

Adapun rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Namun, jika menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, rubella dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. (Berita terkait: Agar si Kecil Tak Takut Jarum Suntik)

Kecacatan ini dikenal sebagai sindroma rubella kongenital, di antaranya meliputi kelainan pada jantung dan mata, ketulian, serta keterlambatan pengembangan. Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, tapi penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Wijayanti – seorang ibu di kota Solo, yang sedang hamil anak kedua – masih ingat betul penyakit rubella yang diderita kakak iparnya beberapa tahun lalu, yang menjangkiti bayi dalam kandungan dan menimbulkan keguguran. Hal yang sama terjadi pada teman dekatnya.

Oleh karena itu, Wijayanti kali ini tak ragu mendaftarkan anak pertamanya yang berusia 3,5 tahun untuk ikut vaksinasi campak rubella atau MR.

“Ya bagi saya, imunisasi ini sangat penting. Pengalaman saya, ada kakak ipar saya yang janin dalam kandungannya terkena rubella dan janinnya tidak terselamatkan. Begitu juga ada teman saya yang hamil dengan kondisi janin terkena rubella dan akhirnya bayi lahir kondisi kepala dan otaknya mengecil. Bagi saya sebagai seorang ibu dengan kondisi hamil dan punya anak balita, itu pengalaman yang berharga. Kalau ada yang menolak imunisasi karena keraguan kehalalan vaksin atau munculnya vaksin palsu, ya itu tidak beralasan, pemerintah sudah bekerja keras untuk menyelamatkan warganya agar terhindar dari penyakit menular atau mematikan. Pemerintah juga pasti sudah berkoordinasi dengan tokoh agama terkait kehalalan vaksin ini,” ungkapnya.(*)

Comments

comments

Lazada Indonesia
SHARE